Senin, 24 September 2012

Bus Jalur 15

Aha!

Bus jalur 15 yang kunanti, sudah datang!

Dengan langkah riang, aku berjalan ke arahnya dan naik dengan mantap.

Kulihat sekeliling, tampaknya belum banyak penumpang yang naik di dalamnya.

Sejenak aku berpikir,

Mau duduk di sebelah mana ya?



Akhirnya, kuputuskan untuk maju ke deretan paling depan, tepatnya di sebelah kiri tempat duduk supir.

Bismillah...

Aku duduk dengan nyaman sembari tersenyum kecil.

Kayak di akuarium... Soalnya di depanku persis adalah kaca depan bis yang besar. Seluruh pemandangan dapat kuliat dengan jelas!

Bis pun melaju perlahan. Eng ing eng... Perjalanan dari Gamping ke kampus pun dimulai..^_^



Selama perjalanan, tak berhenti kulihat pemandangan di depanku.

Deretan ruko, rumah makan, laundry, lampu merah, toko buah, bengkel, dan banyak hal lainnya.

Aku sangat exited melihat semua itu.

Yang anehnya, pemandangan itu yang selalu kulihat setiap harinya lho! Naik bis jalur 15 setiap pergi dan pulang dari kantor dengan pemandangan yang sama setiap harinya. Namun, kok aku tetap saja exited ya?



Setelah kupikir, memang tidak ada yang berubah dari pemandangan yang kulihat, melainkan posisi duduk kita dalam melihat pemandangan itu.

Lho? Maksudnya, Flo?

Iya, karena baru kali ini aku memilih untuk duduk di deretan paling depan ketika naik bis.

Selama ini saat naik bis, aku cenderung untuk SELALU duduk di deretan bangku sebelah kiri baris kelima atau keempat dari depan dan dekat jendela.

Hal inilah yang membuatku sangat hafal dengan deretan toko-toko di sepanjang kiri jalan. Hanya DI SEPANJANG KIRI JALAN, Kawan! Karena memang tempat dudukku di sebelah kiri dekat jendela.



Pernah suatu sore, sahabatku di kantor mengajakku untuk pulang bareng dengan naik bis yang sama, yakni bis jalur 15. Kebetulan kami satu rute perjalanan pulang. Aku bercerita kepada sahabatku itu kalau naik bis, aku selalu memilih untuk duduk di bagian kiri deret belakang. Sejenak, sahabatku itu berpikir dan kemudian memberikan aku pencerahan. Ia berkata, "Beda banget sama aku lho, Flo! Kalau aku sukanya mencoba semua posisi duduk yang berbeda-beda. Kadang aku pilih di tengah sebelah kiri, tengah sebelah kanan, paling belakang, atau paling depan. Karena dengan berganti-ganti posisi duduk akan membuatku melihat banyak hal dari sisi yang berbeda. Dan menurutku, itu hal yang sangat menyenangkan!"



Aku termenung mendengar ucapan sahabatku yang riang itu.

Dan keesokan harinya, aku mencoba seperti apa yang temanku ucapkan. Aku mencoba untuk duduk di deret kanan. Besoknya lagi di bagian belakang dan terakhir di bagian paling depan. Dan memang AJAIB, Kawan! Aku mendapatkan banyak hikmah dari hal ini: Kalau kita selalu duduk dalam satu posisi yang sama, hanya deretan pemandangan di deret yang kita duduki, yang dapat kita lihat. Kalau duduk di kiri, hanya melihat pemandangan di kiri, begitu pula sebaliknya kalau duduk di kanan saja. Sedangkan kalau kita duduk di paling depan, maka seluruh pemandangan di kiri dan kanan dapat kita lihat secara sempurna!



So, hikmah yang bisa kuambil dari perenungan sederhana ini adalah terkadang kita selalu memandang masalah dari "perspektif" kita tanpa melihat "perspektif" dari pihak lain. Ibarat hanya melihat pemandangan dari sisi sebelah kanan saja tanpa melihat sisi yang sebelah kiri. Hal itu lah yang membuat kita menjadi seringkali egois dengan sisi kita saja. Sesungguhnya, melihat masalah dengan melihat dari keseluruhan sisinya (atau menimbang dari banyak hal), akan membuat kita "terpuaskan" dan tidak "melulu" menonjolkan kata "aku" di dalamnya. Layaknya dengan duduk di deretan paling depan untuk melihat keseluruhan pemandangan di hadapan mata akan membuat perjalanan menjadi sangat nyaman. Pun ketika kita memilih untuk duduk di barisan paling belakang, akan ada sensasi dan perspektif baru yang muncul.



Maka, jadilah sosok yang open minded! Pribadi cerdas yang melihat semua hal dari banyak sisi sehingga dalam mengambil keputusan akan semakin mantap dan teruji. Akan lebih baik lagi jika menjadi generasi terdepan, yang duduk di deretan utama, karena pemenang akan selalu ditempatkan di posisi terdepan!^_^



*thanks untuk pencerahannya ya Mbk Izzah...^^Aha!

Bua jalur 15 yang kunanti, sudah datang!

Dengan langkah riang, aku berjalan ke arahnya dan naik dengan mantap.

Kulihat sekeliling, tampaknya belum banyak penumpang yang naik di dalamnya.

Sejenak aku berpikir,

Mau duduk di sebelah mana ya?



Akhirnya, kuputuskan untuk maju ke deretan paling depan, tepatnya di sebelah kiri tempat duduk supir.

Bismillah...

Aku duduk dengan nyaman sembari tersenyum kecil.

Kayak di akuarium... Soalnya di depanku persis adalah kaca depan bis yang besar. Seluruh pemandangan dapat kuliat dengan jelas!

Bis pun melaju perlahan. Eng ing eng... Perjalanan dari Gamping ke kampus pun dimulai..^_^



Selama perjalanan, tak berhenti kulihat pemandangan di depanku.

Deretan ruko, rumah makan, laundry, lampu merah, toko buah, bengkel, dan banyak hal lainnya.

Aku sangat exited melihat semua itu.

Yang anehnya, pemandangan itu yang selalu kulihat setiap harinya lho! Naik bis jalur 15 setiap pergi dan pulang dari kantor dengan pemandangan yang sama setiap harinya. Namun, kok aku tetap saja exited ya?



Setelah kupikir, memang tidak ada yang berubah dari pemandangan yang kulihat, melainkan posisi duduk kita dalam melihat pemandangan itu.

Lho? Maksudnya, Flo?

Iya, karena baru kali ini aku memilih untuk duduk di deretan paling depan ketika naik bis.

Selama ini saat naik bis, aku cenderung untuk SELALU duduk di deretan bangku sebelah kiri baris kelima atau keempat dari depan dan dekat jendela.

Hal inilah yang membuatku sangat hafal dengan deretan toko-toko di sepanjang kiri jalan. Hanya DI SEPANJANG KIRI JALAN, Kawan! Karena memang tempat dudukku di sebelah kiri dekat jendela.



Pernah suatu sore, sahabatku di kantor mengajakku untuk pulang bareng dengan naik bis yang sama, yakni bis jalur 15. Kebetulan kami satu rute perjalanan pulang. Aku bercerita kepada sahabatku itu kalau naik bis, aku selalu memilih untuk duduk di bagian kiri deret belakang. Sejenak, sahabatku itu berpikir dan kemudian memberikan aku pencerahan. Ia berkata, "Beda banget sama aku lho, Flo! Kalau aku sukanya mencoba semua posisi duduk yang berbeda-beda. Kadang aku pilih di tengah sebelah kiri, tengah sebelah kanan, paling belakang, atau paling depan. Karena dengan berganti-ganti posisi duduk akan membuatku melihat banyak hal dari sisi yang berbeda. Dan menurutku, itu hal yang sangat menyenangkan!"



Aku termenung mendengar ucapan sahabatku yang riang itu.

Dan keesokan harinya, aku mencoba seperti apa yang temanku ucapkan. Aku mencoba untuk duduk di deret kanan. Besoknya lagi di bagian belakang dan terakhir di bagian paling depan. Dan memang AJAIB, Kawan! Aku mendapatkan banyak hikmah dari hal ini: Kalau kita selalu duduk dalam satu posisi yang sama, hanya deretan pemandangan di deret yang kita duduki, yang dapat kita lihat. Kalau duduk di kiri, hanya melihat pemandangan di kiri, begitu pula sebaliknya kalau duduk di kanan saja. Sedangkan kalau kita duduk di paling depan, maka seluruh pemandangan di kiri dan kanan dapat kita lihat secara sempurna!



So, hikmah yang bisa kuambil dari perenungan sederhana ini adalah terkadang kita selalu memandang masalah dari "perspektif" kita tanpa melihat "perspektif" dari pihak lain. Ibarat hanya melihat pemandangan dari sisi sebelah kanan saja tanpa melihat sisi yang sebelah kiri. Hal itu lah yang membuat kita menjadi seringkali egois dengan sisi kita saja. Sesungguhnya, melihat masalah dengan melihat dari keseluruhan sisinya (atau menimbang dari banyak hal), akan membuat kita "terpuaskan" dan tidak "melulu" menonjolkan kata "aku" di dalamnya. Layaknya dengan duduk di deretan paling depan untuk melihat keseluruhan pemandangan di hadapan mata akan membuat perjalanan menjadi sangat nyaman. Pun ketika kita memilih untuk duduk di barisan paling belakang, akan ada sensasi dan perspektif baru yang muncul.



Maka, jadilah sosok yang open minded! Pribadi cerdas yang melihat semua hal dari banyak sisi sehingga dalam mengambil keputusan akan semakin mantap dan teruji. Akan lebih baik lagi jika menjadi generasi terdepan, yang duduk di deretan utama, karena pemenang akan selalu ditempatkan di posisi terdepan!^_^



*thanks untuk pencerahannya ya Mbk Izzah...^^

Senin, 06 Agustus 2012

Our Blessing Honeymoon...^_^

Tidak terasa besok, yap, besok tanggal 7 Agustus 2012, satu bulan pernikahan kami yang manis terlewati. Semenjak menikah, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat! Setiap minggunya, harinya, jamnya, menitnya, dan detiknya berderap mantap dan melaju kian pasti. Tepat 2 pekan setelah menikah, bulan Ramadhan datang menyapa kami dengan syahdu. Aih... Bulan Ramadhan pertamaku dengannya! Alhamdulillah Ia memberikan kami bulan yang mulia untuk "berbulan madu"....^_^

Suamiku adalah seorang da'i dan ia begitu bertanggung jawab atas tugasnya tersebut. Sebelum dan saat memasuki bulan Ramadhan, jadwal ngisi pengajiannya sudah nyaris full bahkan sampai pada bulan Syawal mendatang. Berbagai undangan datang dari bermacam2 jama'ah, mulai dari ta'lim di masjid-masjid, kampung-kampung, kampus-kampus, sekolah-sekolah, dan berbagai tempat lainnya. Ada yang di Sleman, Gunung Kidul, Kulonprogo, Bantul, dan Jakarta. Jadwal yang sangat padat setiap harinya! Aktifitas ta'lim suamiku biasanya dimulai setelah ashar hingga tengah malam. Hampir lebih dari setengah harinya ia berikan dirinya untuk dakwah dan untuk jama'ah.

Sebagai suami yang begitu lembut, ia selalu mengajakku untuk ikut serta dengannya saat mengisi pengajian (di samping memang aku sendiri yang ingin selalu ikut karena penasaran.. *ups! hehehehe). Biasanya kami dijemput oleh panitia ke tempat berlangsungnya ta'lim. Ada yang sehari mengisi di satu tempat sehingga bisa pulang lebih cepat, namun tidak jarang ada yang mengisi tiga tempat dalam satu hari dengan rentang waktu yang dekat. Aku begitu bangga dengannya. Terlihat dalam wajahnya gurat lelah yang menyemburat. Dalam perjalanan menuju ke tempat mengisi ta'lim, kulihat sesekali ia memejamkan mata mencoba berdamai dengan rasa letih yang ia rasa.



"Mas capek ya?" bisikku cemas.
Yang kutanya membalasnya dengan senyum, "Ndak kok...".
Aku masih menatapnya lama. "Beneran?" tanyaku meyakinkan.
Ia pun kembali terseyum. "Nanti kalau sudah bertemu jama'ah juga semangat lagi.".
Aku terdiam. Kugenggam tangan kanannya dan kurasakan ia pun juga menggenggam tangan kiriku. Menguatkan. Meneguhkan. Menegarkan. Terselip rasa haru dalam hatiku dan doa agar Allah memberkahi semua ini. Membalas lelahnya dengan surga dan keridhoanMu.

Mendampinginya saat mengisi ta'lim juga menyuguhkan berbagai pengalaman baru untukku. Beberapa jama'ah putri yang menyambut kedatangan kami sering memanggilku dengan sapaan, "Bu Nizam..." Hihihihihi... Batinku tertawa kecil. Aku masih muda jhew... Masih 23 tahun...=) Suamiku juga selalu memperkenalkanku sebagai istrinya saat pembukaan pengajian, "...... Saya sudah menikah... Itu istri saya yang duduk di sana..." ceritanya pada jama'ah sembari tersenyum padaku. Ahhhh... Pipiku selalu saja menyemburat pink saat itu. Kikuk. Aku tersenyum tersipu membalas tatapan ingin tahu para jama'ah terhadap sosok istri Sang Ustad. Bahkan, banyak juga jama'ah Ibu-ibu yang menanyakan apakah kami sudah punya momongan atau belum. Dan lagi-lagi kalau ditanya hal itu aku kembali tersipu malu sambil menjawab, "Belum Ibu... Kami baru sebulan menikah.... Doanya ya Bu...". Hihihihihi..... Spontan yang nanya langsung bilang, "Amiiinnn.... Semoga cepet punya momongan ya...." sambil memegang perutku. Aiih... Beneran mau terbang rasanya kalau digituin...=p

Satu bulan bersama dengannya. Aku menyebutnya sebagai Our Blessing Honeymoon... Bulan madu yang tidak hanya manis bagi kami, melainkan juga menebar manfaat bagi ummat.. Kami sangat bersyukur dan menikmati semua yang Allah berikan. Semoga apa yang kami lakukan ini menjadi investasi amal kebaikan kami dan anak-cucu kami kelak nantinnya. Amiin Ya Rabb...^_^



Selasa, 17 Juli 2012

Masih di Bulan Juli

Aku pernah menuliskan catatan hatiku terkait pertemuan-pertemuan menakjubkan di bulan Juli.
Ketika tujuh tahun yang lalu di bulan tujuh aku pertama bertemu dengan Saudara-saudariku di SMA N 28, tepatnya dengan pejuang-pejuang dakwah Thursina.
Ketika lima tahun yang lalu di bulan tujuh aku pertama bersitatap dan menjabat erat sahabat-sahabatku di HI FISIPOL UGM.
Ketika sekitar tiga atau empat tahun yang lalu di bulan tujuh aku pertama merengkuh dan menggandeng teman-teman FORSALAM UGM dan berbagai lembaga dakwah lainnya di kampusku.
Semua pertemuan yang indah, membekas, terpatri, dan melekat kuat dalam ingatanku hingga kini. Tidak hanya sekedar mengingat dengan siapa aja aku bertemu, dengan wajah siapa saja aku menatap. Namun, alun rasa di dalamnya pun masih kuinsyafi dengan jelas. Karena, dalam setiap pertemuan, ada dentum-dentum yang berirama. Hangat. Nyaman. Terpukau. Terikat. Bersatu.

Dan kini, masih di bulan tujuh yang sudah berganti tahun, aku pun mengalami pertemuan menakjubkan dengan seseorang. Ahh.. Kalian tau siapa dia. Karena kalian adalah awal-awal yang mengetahui hal ini. Aku seringkali malu ketika membisikkan namanya ketika kalian tanya siapa sosok itu. Bahkan, aku pun lebih memilih untuk memberikan undangan hijau itu langsung kepada kalian karena begitu kelu menyebut namanya. Aku malu... Sungguh malu yang merona merah dalam gurat pipiku.

Dan tahukah kalian, ternyata aku juga bertemu pertama kali dengannya juga di bulan tujuh.
Ya... Di bulan tujuh lima tahun yang lalu di tempat kami akhirnya menggenapkan setengah dien.
Saat itu masih biasa saja. Getar pertemuanku dengannya tidak sedahsyat ketika pertama kali aku bertemu kalian.
Karena guncangan dahsyat itu baru kurasakan saat perlahan aku turun dari lantai dua maskam untuk bertemu dengannya setelah aqad dibacakan.

Allah telah mengatur semua skenario ini dengan sangat sempurna.
Hingga aku masih bersama kalian semua dalam hari pernikahanku di tanggal tujuh bulan tujuh tahun dua ribu dua belas. Hati ini menangis haru melihat tatap-tatap bahagia kalian menyambutku di sepanjang selasar masjid. Sungguh, ketika aku masih berada di atas, genggaman tangan kalian begitu ampuh meredakan gejolak kalbuku. Pelukan kalian sungguh mumpuni meredakan keteganganku. Dan ketika ucapan sah itu menggelegar disertai doa, kalian tetap ada di sampingku. Ikut menangis bersamaku. Ikut haru. Ikut bahagia. Ahh... Aku kehabisan kata-kata...

Kini, aku telah bertemu dengan kekasihku di bulan tujuh bersama kalian di dalamnya.
Aku bersyukur sangat tak terperi.
Terima kasih karena kalian selalu ada.
Terima kasih karena selama ini kalian selalu membersamaiku dan menguatkanku.
Terima kasih karena kalian telah meluangkan waktu untuk hadir dan memberiku ucapan selamat dan kecupan sayang.
Terima kasih karena kalian telah dengan senang hati bekerja keras untuk membantuku mempersiapkan semua ini dengan baik.
Terima kasih...
Terima kasih...
Terima kasih...

Aku sayang kalian.
Dan semoga kita dapat kembali bertemu di surga-Nya dengan getar-getar ukhuwah yang tetap terjalin sempurna.


ttd,

Floweria & Nizam Zulfikar

Jumat, 29 Juni 2012

Cerita tentang Ery

Angin dingin yang merasuk membuatku semakin menarik jaket hitam yang kukenakan semalam. Sembari berada di atas motor gede, bersandar dalam punggung seorang laki-laki yang bagiku sangat berharga. Sungguh... Nyaman sekali berada di sampingnya. Badannya yang tinggi tegap membuatku merasa terlindungi sempurna sebagai seorang kakak. Seperti biasa, kami berbincang kecil malam itu. Dengan kecepatan yang konstan, ia tetap bisa meladeni pertanyaan yang muncul dari mulut cerewetku di balik bahunya. Kami berbicara tentang banyak hal. Apa saja. Biasanya Ery akan bercerita tentang mimpi-mimpinya dengan penuh semangat. Melewati lampu merah di Wiyoro. Lampu merah perempatan Wonosari. Lampu merah Perempatan Blok 0. Menanjak ke atas fly over Janti. Lampu merah UIN. Lampu merah Demangan. Dan sampailah kami di XXI, tempat tujuan ngedate kami malam ini.

"Ry, studio berapa?" tanyaku tergopoh menyesuaikan langkahku dengan langkahnya.
"Studio 1" jawabnya singkat. Seperti biasa, tidak suka bertele-tele. "No. H 11-12, Kak" ucapnya lagi sesaat setelah kami memasuki studio.
Tampak bangku deretan belakang sudah terisi. Kami menuju bangku deretan tengah.
"Pas banget di tengah, Ry! Keren! Kenapa nggak dari dulu aja setiap kita nonton di barisan ini?" Mataku berbinar saking senangnya.
Ery yang duduk di samping kiriku hanya tersenyum kecil, "Susah tau Kak ngantrinya..."
Satu setengah jam berikutnya, kami sudah terlarut dalam film kartun yang happening. MADAGASCAR 3! Hehehehe... Lucu banget filmnya! Yang paling kusuka adalah warna-warni dalam film yang oke bgt! Aku sungguh menikmati film itu.

Sebenarnya, aku dan Ery sering nonton berdua di bioskop. Mulai dari film Indonesia kayak Laskar Pelangi, AAC, KCB, Sang Pencerah, Sang Pemimpi, dll. Begitu pula dengan film barat seperti Final Destination, Pirates of Carribian, Kungfu Panda, Sherlock Holmes, Scream, dan yang terakhir adalah MIB 3. Bagiku, menonton dengannya adalah momen yang sangat penting! Karena kesibukan kami masing-masing, menonton adalah sarana efektif untuk kami bertemu. Berbicara banyak hal. Bercerita segalanya. Dan yang terpenting bagiku adalah semakin menguatkan ikatan kakak-adik dengannya. Walau bayarannya adalah pulang larut malam, tapi tidak masalah bagiku asal tetap terjaganya komunikasi diantara kami...^_^

Namun, entah mengapa ada rasa yang agak berbeda semalam. Sepekan menjelang pernikahanku membuat perasaanku akhir-akhir ini menjadi sangat sensitif. Perasaan bimbang. Cemas. Takut. Ya, ada relung hati yang tidak bisa dibohongi. Aku akan sangat merindukan Mama dan Adikku! Satu sisi pernikahan yang membuatku selalu sendu adalah saat menyadari bahwa kita tidak akan lagi tinggal bersama keluarga yang sangat kita cintai. Tidak akan lagi satu atap dengan orang tua yang telah melahirkan kita. Tidak akan sering berantem atau bercerita dengan adik laki-lakimu. Ahh... Sungguh, saat aku menulis sekarang, linangan air mata mengumpul sempurna dalam kedua kelopak mataku. Setetes. Dua tetes jatuh. Maaf, aku tidak bisa menahannya. Ia menyeruak keluar tanpa bisa kutahan.

Dan semalam sepertinya akan menjadi malam terakhir bagiku dan adikku untuk nonton bersama. Untuk makan berdua di malam hari. Malam terakhir bisa kutatap wajahnya sempurna di hadapanku. Melihatnya makan hokben dengan lahap dan menambah lagi menu pasta karena masih lapar.

"Apa visi lo ketika telah menikah nanti, Kak?" tanyanya sambil menguyah makanan.
"Hmmm...." Aku bingung dan kaget ditanya seperti itu. "Contohnya kayak apa, Ry?" tanyaku balik sambil memainkan sumpit di piringku.
Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11 lewat. Menjelang tengah malam. Hokben Jakal masih rame. Beberapa pemuda berkumpul dengan temannya sambil ngobrol-ngobrol santai. Jujur, baru kali ini aku keluar Jogja menjelang tengah malam. Dalam perjalanan dari XXI ke Hokben, berkali-kali aku berdecak kagum.
"Jam segini masih rame aja ya Ry! Hehehe..." teriakku dari balik bahu bidangnya.
"Ya e lah Kak! Lo kemana aje?? Jogja itu emang rame terus!" jawabnya juga dengan teriak karena angin malam yang berhembus cukup kencang.
Aku tersenyum malu "Ya gmn gw mau keluar?? Kan lo tau gw anak rumahan." elakku.

Setelah menelan sisa makanannya. Ery menatapku. "Contohnya adalah misalnya lo sama N*z*m tiap pekannya mau ngasih makan anak yatim atau kegiatan-kegiatan sosial lainnya" jelasnya.
"Kalau kayak gitu sih ndak usah ditanyain Ry. Udah otomatis kalee.." jawabku seadanya sambil melihat ke dalam ruangan hokben. Tampak ada 4 orang pemuda yang sedang mengantri untuk memesan makanan. Saat itu kami memang memilih tempat untuk makan di bagian luar hokben.
"Gak bisa, Kak. Lo bisa bilang kayak gitu sekarang, tapi setelah menikah nanti, lo belum tentu bisa kayak gini. Ketika menikah, lo akan nurut sama keluarga suami lo dan bisa melupakan hal-hal seperti yang gw bilang tadi" sanggahnya.
Aku mengkerut. Perkataan Ery selalu benar bagiku. Ahhhh... Aku menghela nafas.

Perjalanan pulang dari hokben ke rumah, rasa sensitif kembali menggelayuti pikiranku. Satu pekan lagi dan akan sulit untuk bersama adikku. Meminjam kata-kata Bella Swan, seperti ada lubang dalam hatiku. Lubang ketika orang yang kita sayangi tidak dekat dengan kita lagi. Kembali kutarik nafasku dalam-dalam. Berada dengan dinginnya sepoi angin malam itu.

Aku jadi teringat dengan kejadian dua malam sebelumnya. Ery saat ini sering ke rumah karena masa tinggalnya di asrama PPSDMS sudah berakhir. Ia mengangkut barang-barangnya masuk ke kamarku. Aku pergi, dia masuk. Allah telah mengatur semua ini dengan skenarioNya yang terindah dan terbaik untuk keluarga kami. Tiga hari setelah menikahkanku, tepatnya hari Selasa tanggal 10 Juli, Ery akan bertolak KKN ke Wae Lolos, Manggarai Barat, NTT. Ia akan mengabdi di sana selama 5 pekan dan kembali untuk berlebaran di Jakarta pada tanggal 16 Agustus. Saat itu, kami berdua sedang duduk di sofa depan TV.
"Ry, sini tangannya. Kita latihan baca ijab qabul". Kugenggam jari tangannya yang besar dengan erat. Ery pun tampaknya bersemangat untuk mencoba.
"Ikuti kata-kata gw ya! Anggap aja gw jadi lo dan lo jadi pengantin laki-lakinya." Ery mengangguk antusias.
"N*z*m Z*l*i*a*?" Aku mulai beraksi dengan mengingat-ingat kata-kata aqad yang pernah dikirimkan kepadaku,
Ery terdiam "Terus gimana, Kak??"
"Lah... Lo bilang "SAYA", gituuu..." ucapku
"Okee... Okeee..." Ery menjawab santai...
"Kita ulang yak!Anggap aja gw jadi lo dan lo jadi pengantin laki-lakinya" ulangku mengingatkannya.

Ahhhh...
Hatiku mulai berdegup menanti tanggal 7 Juli. Mitsaqan Ghaliza... Dengan adik lak-lakiku yang akan menjadi wali nikahku karena Papa sudah dipanggil Allah sejak awal tahun 2005.
Air mataku kembali meleleh saat ini.
Kakak sayang Ery.... Sangat....




 
 


Selasa, 26 Juni 2012

Catatan Hati Menjelang Aqad.....

Bagiku, pernikahan adalah saling menggenapkan, saling menguatkan, saling melengkapi, saling bersabar, saling memapah, saling merengkuh, saling bertaut, saling menggenggam. Pernikahan akan menggenapkan kebahagiaan, menguatkan kekuatan, melengkapi kekurangan, bersabar akan kelimpahan, memapah dalam menggapai asa, merengkuh dalam dingin dan hangat, bertaut dalam doa, dan menggenggam bersama menuju surga.

Pernikahan adalah kumpulan dari titik-titik kebahagiaan. Bagaikan aliran sungai yang bermelodi sama menuju satu muara yang pasti. Pernikahan tidak hanya menggabungkan hati dua insan, melainkan juga saling mencelupkan warna keluarga besar masing-masing.

Berbicara tentang pernikahan adalah sesuatu yang seharusnya bebas dari kesedihan karena dengannyalah dien ini akan tergenapkan dengan setengahnya lagi adalah takwa. Pun jika ada noktah-noktah haru biru di suatu pagi yang sejuk, itu adalah bulir-bulir cinta dan harapan dari mereka yang mendoakan kita. Biarkan isak para Ibu, Ayah, Saudara, Kerabat, Sahabat, dan Tetangga menjadi alunan indah pengantar diijabahnya doa untuk kedua pengantin. Biarlah menangis... Tersedak... Hingga lumerlah rasa takut itu, rasa bimbang itu, rasa tertinggal itu, dan rasa-rasa lainnya.

Rabu, 16 Mei 2012

Dear Diary...

GALAU?! *ekspresi heran
Yes! Definetly YES! *menjawab mantap
Kenapa?? *muka bingung
BANYAK! *tatapan pasrah
Misalnya? *mengerutkan kening
Pokoknya banyaaaakkkkk..!!! Mulai dari persiapan menjelang hari H yang entah mengapa tidak kelar-kelar. Urusan kantor yang entah kenapa hilang mood-nya. Ngerenungin masa depan setelah jadi nyonya mister tertentu... *menjawab sambil menghitung jari
Oh... Oke... Mari kita urutkan satu persatu masalah yangh tadi dibilang banyaaakkk itu...^_^ *tersenyum
Hmmmm.... Emang dapat nyelesein masalah gitu? *tidak percaya
Ho'oh! Setidaknya benang yang kusut dapat mulai terulur satu-persatu. Karena memang itu lah solusi awal dari pemecahan masalah. Satu-persatu... Step bt step.... *menjelaskan sambil menepuk-nepuk bahu

  • Persiapan menjelang hari H yang entah mengapa tidak kelar-kelar? Mungkin solusinya adalah dengan membuat daftar kebutuhan apa saja yang harus dilakukan dan disiapkan menjelang hari-H. Mulai dari baju pengantin, dokumentasi, catering, undangan, souvenir, fotografer, dll. Banyak blog pernikahan yang nge-share semua kebutuhan menjelang pernikahan dengan tepat. So, gak jadi alasan kalau hal itu membuat kita jadi bingung lagi. Bukan masalah "Apa yang harus kulakukan?", tetapi berganti menjadi, "Setelah ini, aku akan melakukan hal itu!". Semua sudah terjadwal dengan rapi. Fokus dan konsisten pada timeline yang telah dibuat. Mungkin, yang paling melelahkan adalah saat harus survey-survey dari satu tempat ke tempat yang lain. Seperti, beberapa kali crosscheck ke pihak catering terkait kepastian pilihan menu, harga, dan dekorasi. Atau, tidak lupa untuk mengingatkan pihak percetakan undangan agar tidak terlambat nyetak undangannya sesuai dengan desain yang kita minta. Selain itu, kita harus lebih lapang dada dengan beberapa kali fitting baju pengantin. Walau pasti capek banget harus ganti-ganti baju, namun toh itu hasilnya untuk kita juga. Sampai di urusan pernak-pernik pernikahan kelar yaa... Dan yang paling penting adalah selalu jaga komunikasi dengan orang tua kita dan tentu saja dengan calon suami (lebih tepatnya dengan calon mertua). Jangan sampai akibat minimnya komunikasi, menimbulkan kesalahpahaman yang besar dan berdampak fatal ketika hari-H. Mengutip pesan dari salah tulisan di artikel tentang pernikahan, bahwasanya bukan kata PERNIKAHAN SAYA, melainkan PERNIKAHAN KAMI. Hal ini dikarenakan bahwa urusan pernikahan tidak hanya menyangkut dua insan, melainkan dua keluarga besar yang berbeda. So. lakukan semuanya dengan hati sabar dan jangan lupa untuk terus berdoa. Banyak ganjalan dalam hati menjelang hari-H, mungkin petanda kurangnya intensitas kita kepada Allah. Harus ditingkatin ibadahnya. Diperbanyak dzikirnya. Diperlama doa-doanya. Serahkan semua pada Allah, Dzat tempat kita bersandar. Semua kembali kepada Allah. Sebagus apa pun persiapan pernikahan kita kalau tidak dipasrahkan kepada Allah, maka belum tentu hasil akhirnya nikmat, sukses, dan barokah. Karena menikah adalah ibadah, maka proses menuju kesana pun adalah serangkaian ibadaha kita pula yang tidak boleh tertinggal. Allahu'alam. Semoga Allah menjaga maknanya. Allahumma Amin.

  • Urusan kantor yang entah kenapa hilang mood-nya. Kalau yang ini, mungkin lebih baik kita telaah kembali satu persatu. Kenapa ya bisa begitu? Menutip dari artikel di: http://www.untukku.com/artikel-untukku/info-dan-tips/mengatasi-kebosanan-di-tempat-kerja-untukku.html, terdapat beberapa pertanyaan yang sepertinya bisa dijadikan indikator "bener gak sih kalau emang bosen kerja atau cuma males aja?". Berikut daftar pertanyaan dari artikel tersebut: Tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah mengalami gejala hilang semangat seperti dibawah ini:
    1. Apakah Anda merasa lebih sinis, kritis dan sarkastik?
    2. Apakah Anda sudah tidak dapat bersenang-senang lagi?
    3. Apakah setiap kali berangkat kerja Anda merasa berat dan mengalami masalah pada saat akan memulai pekerjaan Anda begitu Anda tiba di kantor?
    4. Apakah Anda lebih mudah marah dan menjadi kurang sabar dengan sesama rekan sekerja atau dengan pelanggan?
    5. Apakah Anda merasa bahwa Anda menghadapi masalah yang tidak dapat diatasi di tempat kerja?
    6. Apakah Anda merasa Anda tidak akan pernah memiliki tenaga agar dapat produktif secara konsisten atau merasa puas atas prestasi Anda?
    7. Apakah Anda sulit untuk tertawa?
    8. Apakah Anda tidak senang dan bosan bila rekan sekerja Anda menanyakan apakah Anda baik-baik saja?
    9. Apakah Anda kecewa dengan pekerjaan Anda?
    10. Apakah kebiasaan tidur atau selera makan Anda berubah?
    11. Apakah Anda mengalami masalah dengan sakit kepala, sakit leher atau sakit punggung bagian bawah?
    Bila Anda menjawab “ya” pada pertanyaan-pertanyaan di atas, Anda mungkin kehilangan semangat dan juga depresi. Hilang semangat dapat merupakan hasil dari:
    1. Tidak adanya control. Mungkin Anda tidak sanggup untuk mengambil keputusan yang berdampak pada pekerjaan Anda seperti misalnya jam kerja Anda atau tanggung jawab yang Anda peroleh. Mungkin Anda tidak sanggup untuk mengontrol beban pekerjaan yang harus Anda kerjakan.
    2. Harapan pekerjaan yang tidak jelas. Misalnya ketidakpastian pada wewenang yang Anda miliki dan tidak memadainya sumber yang diperlukan atas pekerjaan yang Anda lakukan.
    3. Disfungsi dinamika tempat kerja. Misalnya rekan sekerja yang senang menggertak, atau rekan sekerja yang senang melecehkan Anda atau atasan yang mengontrol pekerjaan Anda sampai ke hal-hal yang sekecil-kecilnya.
    4. Penghasilan yang tidak sesuai. Anda akan merasa jenuh bila penghasilan yang Anda peroleh tidak sesuai dengan usaha yang dikelola oleh perusahaan tempat Anda bekerja atau cara perusahaan tempat Anda bekerja mengatasi keluhan pegawainya.
    5. Kegiatan yang ekstrim. Bila pekerjaan terlalu monoton atau terlalu berantakan, Anda membutuhkan enerji yang konstan agar dapat tetap fokus. Dengan berjalannya waktu energi Anda terkuras dan dapat mengarah pada hilangnya semangat kerja.
    Kalau ternyata emang sudah positif kita kehilangan mood kerja, sepertinya perlu refleksi diri lebih mendalam. Selama ini kalau diri sedang "kambuh" bad moodnya, maka akan terjadi dialog dalam hati: Kalau emang bosen kerja di sini, yakin gak akan dapet kerjaan lain yang seperti ini? harus bersyukur lho paska lulus langsung dapat kerja dengan gaji yang bisa dibilang lumayan untuk fresh graduate. Trus solusinya apa?? Hmmm... Apa ya? *berpikir. Sepertinya perlu ada space khusus untuk bahas hal ini. Next time yaaa..^_^

  • Ngerenungin masa depan setelah jadi nyonya mister tertentu... Kalau yang ini emang selalu jadi pikiran hampir setiap saat. Apalagi menjelang hari-H, makin tambah melow perasaannya. Memang, meninggalkan keluarga yang selama ini begitu dekat dengan kita, selalu buat hati nelangsa. Rintik air mata tumpah ketika memikirkan hal itu. Namun, bukan kah hal ini harus kita alami dalam fase hidup ini? Jadi teringat fase hidup muslimah seperti gambar di bawah ini:

Senin, 14 Mei 2012

Aku lupa... Di bulan ketujuh kah?

Aku lupa, awal kita bertemu di bulan ketujuh (atau keenam?) tujuh tahun yang lalu itu.
Apakah saat kita pertama berbaris di lapangan untuk dipanggil ke kelas?
Atau saat kita bersitatap (meski selintas) di tempat wudhu ketika dhuha memanggil?
Aku lupa...
Benar-benar lupa...

Aku lupa bagaimana aku, kamu, dia, dan kita bertemu di bulan ketujuh lima tahun yang lalu itu.
Apakah saat bercengkrama di lobi depan taman fakultas kita?
Atau saat kita duduk melingkar saat berdiskusi di tengah tutor?
Aku lupa...
Benar-benar lupa...

Aku lupa pertama melihat dirimu dan dirinya di suatu bulan sekitar tiga atau empat tahun yang lalu itu.
Apakah saat kita pertama saling tersenyum di pelataran parkir masjid kampus di suatu pagi?
Ataukah saat kita bersama-sama mendaki suatu pucak di Kaliurang?
Aku lupa...
Benar-benar lupa...

Entah tepatnya tanggal berapa, hari apa, minggu keberapa, dan tahun apa aku bertemu denganmu.
Yang kini kusadari, waktu itu adalah saat pertama kali kita berjabat tangan mesra. Menggenggam penuh makna sembari tersenyum memperkenalkan nama masing-masing. Berawal dari sentuhan berjabat, tergores awal pula kisah awal kita.

Aku tersadar, tidak semua jabat tanganku dengan berbagai sosok bisa membuat hatiku terpaut dengannya.
Yang kuyakin, Allah telah memilih kalian untuk menjadi sosok-sosok yang tak lekang dimakan zaman bersamaku.

Walau Tujuh tahun lalu masa putih abu-abuku, atau lima tahun lalu masa kuliahku, atau tiga-empat tahun lalu masa aktivitas dakwahku di kampus ini, saat bertemua kalian tetap terasa bergelora. Penuh antusiasme. Penuh kemesraan.



Oh...
Aku jatuh cinta kepada kalian.
Selalu...
Dari awal tatapan pertama, hingga saat ini dan nanti....

As we go on
We remember
All the times we
Had together
And as our lives change
From whatever
We will still be
Friends Forever

"Graduation (Friends Forever)" by Vitamin C

Yogyakarta, 14 Mei 2012